mpep

mpep
sakarat

Minggu, 11 Desember 2011

memainkan karinding

Karinding: ditempel, dipukul, atau disentir


Pameran Kaos Mahanagari di Galeri Rumah Teh medio tahun 2007 adalah awal perkenalan Mahanagari dengan benda bernama Karinding. Waktu itu Mahanagari dan orang-orang yang datang ke pameran berkesempatan untuk menyaksikan konser ‘mini’ dari seorang local genius, Dodong Kodir. Kami menyapanya kang Odong. Saya, dengan jidat mengkerut dan wajah keanehan, kurang bisa menikmati sajian musik yang dimainkan kang Odong karena bunyinya terdengar baru. “musik yang aneh”, pikir saya dalah hati. Tapi keren. Beliau bereksperimen dengan alat musik ‘ciptaannya’ sendiri. Ada pipa bekas, tempat pakan ayam, tali sepatu, per, dan berbagai perkakas bekas lainnya. Dia menyebut musiknya sebagai musik sampah. Terkecuali satu alat musik yang bentuknya imut dan dimainkan dengan menempelkannya ke mulut. “Namanya apa kang Odong?”, tanya saya tentang alat musik yang ngegantung di lehernya itu. “Karinding”, jawab si akang.

Di lain kesempatan, Mahanagari bertemu dengan seorang budayawan yang sudah lama menekuni dunia Karinding secara utuh, Kang Yoyo dan Opa Felix, senior tour guide eksentrik yang mengkampanyekan Indonesia lewat konsep Kampung Tournya. Kalo Kang Odong dan karindingnya punya gaya yang lebih kontemporer, Kang Yoyo & Opa, cenderung memaknai Karinding secara tradisi. “Demi mempertahankan keorisinalitasnya”, terang Opa. Mahanagari, Kang Yoyo & Opa pernah mengisi acara tentang Karinding di kampus STBA pada Februari 2008.

Sihir Karinding kami bawa ke CiWalk. Mahanagari memboyong Kang Dodong dan Pak Asep Nata, musisi sekaligus dosen musik di STSI Bandung, untuk mempresentasikan Karinding di depan orang-orang yang seliweran keluar masuk atau nongkrong di mall tersebut. Begitu si mungil karinding nempel di mulut kedua jagoan musik itu, siapa yang sangka alunan jazz hingga blues bisa keluar dari Karinding.

Sekarang cerita aja, yuk, apa itu Karinding. Karinding adalah alat musik imut yang dimainkan dengan cara ditempelkan di mulut lalu dipukul-pukul ujungnya atau disentir melalui tali. Getaran antara si karinding dan mulut digabung dengan udara dari mulut menghasilkan suara yang gak biasa. “Tweew..tweew...”, begitulah. Ukuran standar karinding adalah panjang 10 cm dan lebar 2 cm. Karinding di Indonesia umumnya terbuat dari bambu meski di beberapa tempat terbuat dari pelepah enau/aren/kawung dan logam. Sekarang Karinding dapat disebut sebagai alat musik karena dia menghasilkan bunyi. Kerennya lagi, Karinding itu lebih dari sekedar bunyi. Pertama, ada Karinding Lanang (Jantan) dan Karinding Wadon (betina). Yang Lanang menghasilkan suara yang lebih tinggi dan nyaring sedangkan karinding Wadon sebaliknya. Penggunaannya gak cuma untuk menghibur, tapi juga dimainkan dalam upacara adat. Karinding tradisional hanya dapat menghasilkan nada yang sama. Karenanya diatas panggung, Karinding akan lebih terdengar ajaib dan unik bila digabungkan dengan alat musik lainnya, apakah itu gitar, Suling, Kecapi, dan gamelan.

Nah, yang unik lagi dari Karinding adalah fakta bahwa dia bukan alat musik tradisional milik orang Sunda aja atau Indonesia doang, melainkan alat musik dunia. Kalo kata pak Asep mah, Karinding ini sudah ada sejak jaman batu. “dia adalah alat musik purba”, jelas Pak Asep. Namun bagaimana sejarah terciptanya karinding sendiri, beliau justru masih blur alias masih belum jelas gimana.

Kang Yoyo pernah memberitahu saya, karinding adalah sebuah alat yang digunakan orang tua dulu sebagai alat untuk mengusir hama di sawah. Alat ini konon telah digunakan orang tua (karuhun) sejak jaman sebelum ditemukannya Kacapi (Kecapi) sedangkan usia kecapi itu sendiri sudah mencapai lebih dari lima ratus tahun yang lalu. Jadi, diperkirakan alat ini berumur lebih dari 600 tahun. Kata si Konon pula, Karinding pernah digunakan orang-orang jaman dulu untuk merayu sang kekasih. Menurut pak Asep, Karinding di masa lalu itu ibarat gitar di masa sekarang yang sang Romeo gunakan untuk menyanyikan lagu-lagu cinta, sementara si Juliet tersipu-sipu malu dijendela kamarnya. hihihi lucu ya, Karinding dan gitar itu menghasilkan bunyi yang bedanya jauuuuh banget tapi ternyata berfungsi sama.

Berhubung dia ini alat musik dunia, maka setiap benua setiap negara bahkan untuk lebih spesifiknya lagi, setiap daerah di dunia ini punya istilah yang berbeda-beda untuk menyebut Karinding. Istilah Karinding diberikan oleh orang-orang Jawa Barat. Bila kamu pergi ke Jawa tengah, alat musik ini bernama Rinding. Genggong kalo di Bali dan Tung kalo di Kalimantan. Beda lagi kalo kamu ke Lombok atau ke Sumatera, bahkan di Eropa dan Amerika.

Bila dimisalkan dari satu bambu bisa tercipta 10 Karinding, maka hanya dua atau tiga saja yang lolos dan mulus menjadi the real Karinding. Salah satu kearifan warisan karuhun kita yang sudah seharusnya diteruskan. Sesuatu dilabeli nilai filosofis dan makna yang dalam. Maksud hati mungkin untuk mendewakan Tuhannya, namun sikap ini juga ternyata bisa menjaga proses menghargai kualitas.

Untuk menambal kekurangan nada yang dihasilkan Karinding, Pak Asep yang sudah meneliti Karinding selama 4 tahun, berhasil mengembangkan bentuk Karinding versi baru. Beliau menamakannya Karinding Kipas karena bentuknya mnyerupai kipas Jepang. Terdiri dari beberapa Karinding yang masing-masingnya menghasilkan nada berbeda. Maen blues dari Karinding Kipas juga bisa, dong. Kayak di Ciwalk waktu itu. Tiga biji Karinding dari Karinding Kipasnya itu beliau berikan cuma-cuma untuk Mahanagari. Asik!

Lain pak Asep, lain pula Kang Odong. Bapak yang satu ini mengkombinasikan Karinding dengan suara dari alat lain. Basically Kang Odong ini bermusik dengan 'sampah' maka akan normal banget kalo Karindingnya ditandem dengan bekas pipa ledeng, batok kalapa, drum, atau suaranya sendiri (suaranya bukan suara sampah loh, ya). Jadi Karinding bapak gondrong yang satu ini itu bisa ngerap, ngerock, country sunda, dan sejenisnya. Bikin kita ketawa dan geleng-geleng kagum deh dengernya.

Suara yang dihasilkan Karinding berkesan magis, apalagi jika didengar malam-malam yang sepi. Belum lagi kalau Karinding diduetkan dengan alat musik tradisional dan modern lainnya, Suling atau Kecapi, Celempung, gitar, biola juga oke. Matching hebring.

Gabungan suara dari alat-alat musik tersebut bisa bikin kamu hanyut, trans seolah terbang ke suatu tempat yang ada nun jauh disana. Rasanya seperti ingin menembus langit. Gak percaya? download aja videonya dan dengerin sendiri. Waktu pak Asep memainkan Karinding dan kang Dodong meniup suling pipanya, suaranya...wow. Kalau didenger langsung bikin merinding. Begitu denger suara musik itu saya sih ngebayangin suasana sunset di medan perang Batarayuda. hehehe=D

Yuk ah sama-sama ngejaga Karinding. Sounds cliche memang, tapi harusnya begitu, toh. Keberadaan Karinding ini vakum lama banget, sampai tahun 2005 lalu kang Yoyo dan teman-temannya berhasil menghidupkannya kembali. Begitu juga kang Odong yang bisa membawanya sampai ke luar negeri. Gak kalah lagi sekarang modifikasi Karinding dari Pak Asep yang memudahkan kita untuk maininnya. Jadi ayo sama-sama berkarinding. Bule aja kagum mampus sama kebudayaan kita & kenapa kita gak. Sok urang Bandung, kamarana atuh?

karinding

Bandung - Tahun 2008, sebuah alat musik yang terbuat dari bambu bernama Karinding mulai booming di Bandung. Karena itu, banyak orang-orang yang ingin mempelajari alat musik yang terbilang unik tersebut.

Sampai akhirnya, Kimung dan teman-temannya yang juga tertarik dengan Karinding ini mendirikan Kelas Karinding yang digelar di Common Room, Jalan Kiyai Gede Utama.

"Kelas karinding pertama kali dibuka tahun 2008. Namun untuk mengeluarkan silabus dan kurikulum pengajaran, baru pada tahun 2010," kata Kimung kepada detikbandung.

Di kelas karinding, diajarkan dasar atau pakem dan pengembangan alat musik tersebut. Pakem yang dipakai di kelas karinding adalah pakem Maestro Karinding, Abah Olot (46).

"Kita di sini lebih ke pengembangan karinding tersebut yang bisa dikolaborasikan dengan alat musik lain. Tapi sebelum ke situ (kolaborasi) harus tahu pakem-pakemnya dulu," jelas Kimung.

Jika sudah paham pakem dari alat musik khas tatar sunda ini, bisa dikembangkan menjadi musik aliran pop, blus dan lain sebagainya.

Yang diajarkan di kelas karinding, selain karindingnya sendiri, yakni Celempung Bambu, Toleat, Suling, Goong Tiup, Jigaridu, Kohkol, Kacapi, dan Kendang.

"Tapi kacapi dan kendang tidak menjadi fokus kita," imbuh kimung.

Untuk bisa menguasai Karinding waktu yang diperlukan kurang lebih dua sampai tiga bulan. Tapi untuk lebih mahir dan bereksplorasi bisa sampai enam bulan bahkan satu tahun.

"Tapi kalau cuma nabeuh mah sih dua hari juga bisa," kata Kimung.

memainkan karinding

Memainkan Karinding
cukup mudah untuk siapa saja, dengan cara di pukul memperlakukan alat ini seperti alat musik perkusi, dengan menggunakan satu jari tangan, dan ketika kita sudah mampu menghasilkan getaran secara intens,dengan di tempelkan di mulut sebagai resonansi nya, dan lidah sebagai pengontrol bunyi yang kita inginkan.
Ada beberapa jenis suara yang dihasilkan, yaitu dengan mulut kosong tanpa napas dan dengan menggunakan napas,ini akan menghasilkan bunyi yang berbeda. Alat ini bisa menghasilkan suara yang khas dari tiap orang, sebutlah jenis melodi, rhytm dan bass nya bisa di hasilkan, atawa kendang, saron, goong nya kata orang sunda mah, bahkan menyanyikan lagu dengan karinding sekalipun, bukan dengan vokal kita, ini tergantung bagaimana kita bisa memainkan lidah dan napas.
Yang menarik dari Karinding ini adalah, Pertama dengan cara di pukul ini mampu menghasilkan bunyi yang variatif cukup banyak. Kedua, suara tiap orang yang memainkan akan berbeda dengan yang lainnya, walaupun memainkan jenis pukulan (Rahel) yang sama , ini berbeda karena tiap orang memilki konstruksi mulut yang berbeda.

karinding

KARINDING

adalah sebuah alat yang digunakan orang tua dulu sebagai alat untuk mengusir hama di sawah. sekarang disebutnya sebagai alat musik karena menghasilkan bunyi . dan alat ini konon sebagai alat yang telah digunakan orang tua (karuhun) sejak jaman sebelum ditemukannya Kacapi, yang usia kecapi itu sendiri sudah mencapai lebih dari lima ratus tahun yang lalu, diperkirakan alat ini sudah lebih tua dari 600 tahun .
Jenis alat seperti Karinding ini adalah alat musik yang dimiliki oleh berbagai suku yang bukan hanya di tatar sunda, juga di daerah bahkan negara dan bangsa lain, seperti misal jenis ini di Jawa tengah disebutnya sebagai Rinding, dan di Bali dikenal sebagai Genggong. bahan dan suara yang dihasilkan hampir tidak ada bedanya,yang berbeda adalah cara memainkannya, ada yang di Trim (di getarkan dengan di sentir) dan di Tap ( dipukul).
sedang alat sejenis di luar dikenal dengan istilah Zuesharp ( harpanya dewa Zues)
Material yang digunakan (di wilayah jawa barat) untuk membuat karinding ini ada dua jenis, pelepah kawung dan Bambu, sedang Zeusharp menggunakan material besi dan baja.
Jenis bahan dan jenis disain bentuk karinding, itu menunjukan perbedaan usia, tempat dan sebagai perbedaan gender pemakai. Semisal bahan bambu yang lebih menyerupai susuk sanggul, ini untuk perempuan,karena konon ibu-ibu menyimpannya dengan di tancapkan disanggul. Sedang yang laki-laki menggunakan pelapah kawung dengan ukuran lebih pendek, karena biasa disimpan di tempat mereka menyimpan bako. tetapi juga sebagai perbedaan tempat dimana dibuatnya, seperti diwilayah priangan timur, karinding lebih banyak menggunakan bahan bambu karena bahan ini menjadi bagian dari kehidupannya.

Sabtu, 22 Oktober 2011

ABAH OLOT GIRI KERENCENG.mp4

karinding militan ''BF SONG -''BUFALO FACE''( bengeut munding)

KARINDING MILITAN a.k.a KARMILA(INDONESIA)

karinding celempung.... yesss

KARINDING ,Toleat.&CALEMPUNG.indonesia

karinding Tarawangsa

kawangi ( karinding siliwangi ).wmv

Karinding koclak.mp4

RAMPAK KARINDING rekor muri

KARINDING Pasirhayam.mp4

karinding kudeta feat mang engkus.avi

KARINDING VS HIPHOP.flv

4 cara memainkan karinding (abah olot)

HAMPURA EMA pt II - KARINDING ATTACK [ HQ ]

HAMPURA EMA pt II - KARINDING ATTACK [ HQ ]

JASAD - Kujang Rompang Live at Bulungan (Jakarta Death Fest 2011).mp4

kujang

Kujang

Kujang, senjata khas Sunda
Replika kujang pada monumen kota Bogor
Kujang adalah sebuah senjata unik dari daerah Jawa Barat. Kujang mulai dibuat sekitar abad ke-8 atau ke-9, terbuat dari besi, baja dan bahan pamor, panjangnya sekitar 20 sampai 25 cm dan beratnya sekitar 300 gram.
Kujang merupakan perkakas yang merefleksikan ketajaman dan daya kritis dalam kehidupan juga melambangkan kekuatan dan keberanian untuk melindungi hak dan kebenaran. Menjadi ciri khas, baik sebagai senjata, alat pertanian, perlambang, hiasan, ataupun cindera mata.
Menurut Sanghyang siksakanda ng karesian pupuh XVII, kujang adalah senjata kaum petani dan memiliki akar pada budaya pertanian masyarakat Sunda.

Daftar isi

 

 Deskripsi

Kujang dikenal sebagai senjata tradisional masyarakat Jawa Barat (Sunda) yang memiliki nilai sakral serta mempunyai kekuatan magis. Beberapa peneliti[siapa?] menyatakan bahwa istilah "kujang" berasal dari kata kudihyang (kudi dan Hyang. Kujang (juga) berasal dari kata Ujang, yang berarti manusia atau manusa. Manusia yang sakti sebagaimana Prabu Siliwangi.
Kudi diambil dari bahasa Sunda Kuno yang artinya senjata yang mempunyai kekuatan gaib sakti, sebagai jimat, sebagai penolak bala, misalnya untuk menghalau musuh atau menghindari bahaya/penyakit[rujukan?]. Senjata ini juga disimpan sebagai pusaka, yang digunakan untuk melindungi rumah dari bahaya dengan meletakkannya di dalam sebuah peti atau tempat tertentu di dalam rumah atau dengan meletakkannya di atas tempat tidur (Hazeu, 1904 : 405-406). Sementara itu, Hyang dapat disejajarkan dengan pengertian Dewa dalam beberapa mitologi, namun bagi masyarakat Sunda Hyang mempunyai arti dan kedudukan di atas Dewa, hal ini tercermin di dalam ajaran “Dasa Prebakti” yang tercermin dalam naskah Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian disebutkan “Dewa bakti di Hyang”.
Secara umum, Kujang mempunyai pengertian sebagai pusaka yang mempunyai kekuatan tertentu yang berasal dari para dewa (=Hyang), dan sebagai sebuah senjata, sejak dahulu hingga saat ini Kujang menempati satu posisi yang sangat khusus di kalangan masyarakat Jawa Barat (Sunda). Sebagai lambang atau simbol dengan niali-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya, Kujang dipakai sebagai salah satu estetika dalam beberapa lambang organisasi serta pemerintahan. Disamping itu, Kujang pun dipakai pula sebagai sebuah nama dari berbagai organisasi, kesatuan dan tentunya dipakai pula oleh Pemda Propinsi Jawa Barat.
Di masa lalu Kujang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Sunda karena fungsinya sebagai peralatan pertanian. Pernyataan ini tertera dalam naskah kuno Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian (1518 M) maupun tradisi lisan yang berkembang di beberapa daerah diantaranya di daerah Rancah, Ciamis. Bukti yang memperkuat pernyataan bahwa kujang sebagai peralatan berladang masih dapat kita saksikan hingga saat ini pada masyarakat Baduy, Banten dan Pancer Pangawinan di Sukabumi.
"Segala macam hasil tempaan, ada tiga macam yang berbeda. Senjata sang prabu ialah: pedang, abet (pecut), pamuk, golok, peso teundeut, keris. Raksasa yang dijadikan dewanya, karena digunakan untuk membunuh. Senjata orang tani ialah: kujang, baliung, patik, kored, pisau sadap. Detya yang dijadikan dewanya, karena digunakan untuk mengambil apa yang dapat dikecap dan diminum. Senjata sang pendeta ialah: kala katri, peso raut, peso dongdang, pangot, pakisi. Danawa yang dijadikan dewanya, karena digunakan untuk mengerat segala sesuatu, Itulah ketiga jenis senjata yang berbeda pada sang prebu, pada petani, pada pendeta. Demikianlah bila kita ingin tahu semuanya, tanyalah pandai besi."

Dengan perkembangan kemajuan, teknologi, budaya, sosial dan ekonomi masyarakat Sunda, Kujang pun mengalami perkembangan dan pergeseran bentuk, fungsi dan makna. Dari sebuah peralatan pertanian, kujang berkembang menjadi sebuah benda yang memiliki karakter tersendiri dan cenderung menjadi senjata yang bernilai simbolik dan sakral. Wujud baru kujang tersebut seperti yang kita kenal saat ini diperkirakan lahir antara abad 9 sampai abad 12.
Bagian-bagian Kujang Karakteristik sebuah kujang memiliki sisi tajaman dan nama bagian, antara lain : papatuk/congo (ujung kujang yang menyerupai panah), eluk/silih (lekukan pada bagian punggung), tadah (lengkungan menonjol pada bagian perut) dan mata (lubang kecil yang ditutupi logam emas dan perak). Selain bentuk karakteristik bahan kujang sangat unik cenderung tipis, bahannya bersifat kering, berpori dan banyak mengandung unsur logam alam.
Dalam Pantun Bogor sebagaimana dituturkan oleh Anis Djatisunda (996-2000), kujang memiliki beragam fungsi dan bentuk. Berdasarkan fungsi, kujang terbagi empat antara lain : Kujang Pusaka (lambang keagungan dan pelindungan keselamatan), Kujang Pakarang (untuk berperang), Kujang Pangarak (sebagai alat upacara) dan Kujang Pamangkas (sebagai alat berladang). Sedangkan berdasarkan bentuk bilah ada yang disebut Kujang Jago (menyerupai bentuk ayam jantan), Kujang Ciung (menyerupai burung ciung), Kujang Kuntul (menyerupai burung kuntul/bango), Kujang Badak (menyerupai badak), Kujang Naga (menyerupai binatang mitologi naga) dan Kujang Bangkong (menyerupai katak). Disamping itu terdapat pula tipologi bilah kujang berbentuk wayang kulit dengan tokoh wanita sebagai simbol kesuburan.

Senin, 17 Oktober 2011

Calung
Darso Dewa Calung Legendaris PDF Print E-mail
Written by KAsep   
Bandung - Seniman Sunda mengakui kehilangan sosok Darso yang namanya begitu melekat di seantero Jawa Barat. Bagi rekan sejawatnya, 'Dewa Calung' yang musiknya bergenre Pop Sunda ini merupakan seorang legenda.

"Saya mewakili seniman sangat kehilangan Kang Darso. Ia ialah legenda dan master musik Pop Sunda," kata Esa Poetra yang mewakili seniman saat memberikan sambutan usai pemakaman umum warga Cibisoro, di Desa Gandasari, Kecamatan Katapang, Kabupaten Bandung, Selasa (13/9/2011).

Last Updated on Thursday, 22 September 2011 01:28
Read more...
 
Calung PDF Print E-mail
Written by KAsep   
Calung adalah alat musik Sunda yang merupakan prototipe (purwarupa) dari angklung. Berbeda dengan angklung yang dimainkan dengan cara digoyangkan, cara menabuh calung adalah dengan mepukul batang (wilahan, bilah) dari ruas-ruas (tabung bambu) yang tersusun menurut titi laras (tangga nada) pentatonik (da-mi-na-ti-la). Jenis bambu untuk pembuatan calung kebanyakan dari awi wulung (bambu hitam), namun ada pula yang dibuat dari awi temen (bambu yang berwarna putih). Pengertian calung selain sebagai alat musik juga melekat dengan sebutan seni pertunjukan. Ada dua bentuk calung Sunda yang dikenal, yakni calung rantay dan calung jinjing.

nenek moyang karinding

KARINDING


Karinding adalah sebuah alat yang digunakan orang tua dulu sebagai alat untuk mengusir hama di sawah. sekarang disebutnya sebagai alat musik karena menghasilkan bunyi . dan alat ini konon sebagai alat yang telah digunakan orang tua (karuhun) sejak jaman sebelum ditemukannya Kacapi, yang usia kecapi itu sendiri sudah mencapai lebih dari lima ratus tahun yang lalu, diperkirakan alat ini sudah lebih tua dari 600 tahun .
Jenis alat seperti Karinding ini adalah alat musik yang dimiliki oleh berbagai suku yang bukan hanya di tatar sunda, juga di daerah bahkan negara dan bangsa lain, seperti misal jenis ini di Jawa tengah disebutnya sebagai Rinding, dan di Bali dikenal sebagai Genggong. bahan dan suara yang dihasilkan hampir tidak ada bedanya,yang berbeda adalah cara memainkannya, ada yang di Trim (di getarkan dengan di sentir) dan di Tap ( dipukul).
sedang alat sejenis di luar dikenal dengan istilah Zeusharp ( harpanya dewa Zeus)
Material yang digunakan (di wilayah jawa barat) untuk membuat karinding ini ada dua jenis, pelepah kawung dan Bambu, sedang Zeusharp menggunakan material besi dan baja.
Jenis bahan dan jenis disain bentuk karinding, itu menunjukan perbedaan usia, tempat dan sebagai perbedaan gender pemakai. Semisal bahan bambu yang lebih menyerupai susuk sanggul, ini untuk perempuan,karena konon ibu-ibu menyimpannya dengan di tancapkan disanggul. Sedang yang laki-laki menggunakan pelapah kawung dengan ukuran lebih pendek, karena biasa disimpan di tempat mereka menyimpan bako. tetapi juga sebagai perbedaan tempat dimana dibuatnya, seperti diwilayah priangan timur, karinding lebih banyak menggunakan bahan bambu karena bahan ini menjadi bagian dari kehidupannya.


Memainkan Karinding
cukup mudah untuk siapa saja, dengan cara di pukul memperlakukan alat ini seperti alat musik perkusi, dengan menggunakan satu jari tangan, dan ketika kita sudah mampu menghasilkan getaran secara intens,dengan di tempelkan di mulut sebagai resonansi nya, dan lidah sebagai pengontrol bunyi yang kita inginkan.
Ada beberapa jenis suara yang dihasilkan, yaitu dengan mulut kosong tanpa napas dan dengan menggunakan napas,ini akan menghasilkan bunyi yang berbeda. Alat ini bisa menghasilkan suara yang khas dari tiap orang, sebutlah jenis melodi, rhytm dan bass nya bisa di hasilkan, atawa kendang, saron, goong nya kata orang sunda mah, bahkan menyanyikan lagu dengan karinding sekalipun, bukan dengan vokal kita, ini tergantung bagaimana kita bisa memainkan lidah dan napas.
Yang menarik dari Karinding ini adalah, Pertama dengan cara di pukul ini mampu menghasilkan bunyi yang variatif cukup banyak. Kedua, suara tiap orang yang memainkan akan berbeda dengan yang lainnya, walaupun memainkan jenis pukulan (Rahel) yang sama , ini berbeda karena tiap orang memilki konstruksi mulut yang berbeda.


[COLOR="Sienna"]Low desibel
kenapa Karinding mampu menghasilkan suara yang bisa mengusir hama?
Suara yang dihasilkan berupa getaran yang tidak begitu jelas terdengar oleh telinga kita, secara ilmu suara di kategorikan pada jenis low desibel, yang getaran ini cuma bisa didengar oleh jenis binatang jenis insect, konon inilah yang dikenal sekarang sebagai suara ultrasonik.

Dan alat ini, leluhur kita membuatnya sebagai alat pengusir hama (bagaimana mereka bisa mengitung samapi kesana?) dan supaya betah memainkan alat ini, maka di ciptakanlah alat yang sangat incredible ini, ya mengusir hama, ya bermain musik, ya asik!. dahsyat kan?

belakangan kita tahu microsoft mengeluarkan software anti nyamuk, pernah denger?, juga TV Media menjual sebuah alat ultrasonic yang di connect ke listrik. coba dengarkan apa yang diahsilkan oleh alat ini semua? sebuah getaran!
Ini lah bedanya ilmu leluhur, alat bukan cuma sekedar alat, tetapi ada perhitungan lain yang lebih dari itu, coba bayangkan hubungan ilmu leluhur kita antar satu dengan lainnya gan!.
Seperti Karinding ini, alat pengusir hama dengan bermain musik, bebas pestisida, dan binatang juga harus hidup untuk keseimbangan alam ini,jadi tidak perlu dibunuh.
Kecanggihan alat ini sebagai bukti bahwa karuhun urang sunda sebagai "bangsa yang sudah memiliki kebudayaan, bahasa, tulisan bahkan hitungannya pun sudah sampai ke tingkat Matrix,itu pada tahun 122 Masehi" percaya?[/COLOR]

asal mula karinding

Senin, 29 November 2010

ASAL MULA-NYA KARINDING

Awalnya karinding adalah alat yang digunakan oleh para karuhun untuk mengusir hama di sawah—bunyinya yang low decible sangat merusak konsentrasi hama. Karena ia mengeluarkan bunyi tertentu, maka disebutlah ia sebagai alat musik. Bukan hanya digunakan untuk kepentingan bersawah, para karuhun memainkan karinding ini dalam ritual atau upaca adat. Maka tak heran jika sekarang pun karinding masih digunakan sebagai pengiring pembacaan rajah. Bahkan, konon, karinding ini digunakan oleh para kaum lelaki untuk merayu atau memikat hati wanita yang disukai. Jika keterangan ini benar maka dapat kita duga bahwa karinding, pada saat itu, adalah alat musik yang popular di kalangan anak muda hingga para gadis pun akan memberi nilai lebih pada jejaka yang piawai memainkannya. Mungkin keberadaannya saat ini seperti gitar, piano, dan alat-alat musik modern-popular saat ini.
Beberapa sumber menyatakan bahwa karinding telah ada bahkan sebelum adanya kecapi. Jika kecapi telah berusia sekira lima ratus tahunan maka karinding diperkirakan telah ada sejak enam abad yang lampau. Dan ternyata karinding pun bukan hanya ada di Jawa Barat atau priangan saja, melainkan dimiliki berbagai suku atau daerah di tanah air, bahkan berbagai suku di bangsa lain pun memiliki alat musik ini–hanya berbeda namanya saja. Di Bali bernama genggong, Jawa Tengah menamainya rinding, karimbi di Kalimantan, dan beberapa tempat di “luar” menamainya dengan zuesharp ( harpanya dewa Zues). Dan istilah musik modern biasa menyebut karinding ini dengan sebutan harpa mulut (mouth harp). Dari sisi produksi suara pun tak jauh berbeda, hanya cara memainkannya saja yang sedikit berlainan; ada yang di trim (di getarkan dengan di sentir), di tap ( dipukul), dan ada pula yang di tarik dengan menggunakan benang. Sedangkan karinding yang di temui di tataran Sunda dimainkan dengan cara di tap atau dipukul.
Material yang digunakan untuk membuat karinding (di wilayah Jawa Barat), ada dua jenis: pelepah kawung dan bambu. Jenis bahan dan jenis disain bentuk karinding ini menunjukan perbedaan usia, tempat, dan sebagai perbedaan gender pemakai. Semisal bahan bambu yang lebih menyerupai susuk sanggul, ini untuk perempuan, karena konon ibu-ibu menyimpannya dengan di tancapkan disanggul. Sedang yang laki-laki menggunakan pelapah kawung dengan ukuran lebih pendek, karena biasa disimpan di tempat mereka menyimpan tembakau. Tetapi juga sebagai perbedaan tempat dimana dibuatnya, seperti di wilayah priangan timur, karinding lebih banyak menggunakan bahan bambu karena bahan ini menjadi bagian dari kehidupannya.[1]
Karinding umumnya berukuran: panjang 10 cm dan lebar 2 cm. Namun ukuran ini tak berlaku mutlak; tergantung selera dari pengguna dan pembuatnya—karena ukuran ini sedikit banyak akan berpengaruh terhadap bunyi yang diproduksi.
Karinding terbagi menjadi tiga ruas: ruas pertama menjadi tempat mengetuk karinding dan menimbulkan getaran di ruas tengah. Di ruas tengah ada bagian bambu yang dipotong hingga bergetar saat karindingdiketuk dengan jari. Dan ruas ke tiga (paling kiri) berfungsi sebagai pegangan.
Cara memainkan karinding cukup sederhana, yaitu dengan menempelkan ruas tengah karinding di depan mulut yang agak terbuka, lalu memukul atau menyentir ujung ruas paling kanan karinding dengan satu jari hingga “jarum” karinding pun bergetar secara intens. Dari getar atau vibra “jarum” itulah dihasilkan suara yang nanti diresonansi oleh mulut. Suara yang dikeluarkan akan tergantung dari rongga mulut, nafas, dan lidah. Secara konvensional—menurut penuturan Abah Olot–nada atau pirigan dalam memainkan karinding ada empat jenis, yaitu: tonggeret, gogondangan, rereogan, dan iring-iringan.

karinding

Karinding sebagai pengusir hama

Karinding
Karinding
Karinding adalah alat musik tradisional masyarakat sunda ladang yg terbuat dari batang pohon aren, ataupun ada yang bilang dari pelepah kawung dan bambu.  Konon katanya karinding ini alat musik yang cukup tua. Karinding sendiri tidak hanya ada di tatar sunda, malahan di daerah Jawa Tengah ada yang disebut Rinding dan di Bali disebut dengan Genggong.
Alat musik ini ditabuh menggunakan jari tangan (telunjuk) dan memakai mulut kita sebagai resonatornya untuk menghasilkan suara, cukup mudah untuk siapa saja, dengan cara di pukul memperlakukan alat ini seperti alat musik perkusi, dengan menggunakan satu jari tangan, dan ketika kita sudah mampu menghasilkan getaran secara intens,dengan di tempelkan di mulut sebagai resonansi nya, dan lidah sebagai pengontrol bunyi yang kita inginkan.
Ada beberapa jenis suara yang dihasilkan, yaitu dengan mulut kosong tanpa napas dan dengan menggunakan napas,ini akan menghasilkan bunyi yang berbeda. Alat ini bisa menghasilkan suara yang khas dari tiap orang, sebutlah jenis melodi, rhytm dan bass nya bisa di hasilkan, atawa kendang, saron, goong nya kata orang sunda mah, bahkan menyanyikan lagu dengan karinding sekalipun, bukan dengan vokal kita, ini tergantung bagaimana kita bisa memainkan lidah dan napas.
Yang menarik dari Karinding ini adalah, Pertama dengan cara di pukul ini mampu menghasilkan  bunyi yang variatif cukup banyak. Kedua, suara tiap orang yang memainkan akan berbeda dengan yang lainnya, walaupun memainkan jenis pukulan (Rahel) yang sama , ini berbeda karena tiap orang memilki konstruksi mulut yang berbeda.
Karinding 2
Karinding 2
Biasanya karinding itu dimainkan pada malam hari oleh orang-orang sambil menunggui ladangnya di hutan atau di bukit-bukit, dan saling bersautan antara bukit yang satu dan bukit lainnya. Ternyata alat musik karinding bukan hanya sebagai alat untuk mengusir sepi dimalam hari tapi juga berfungsi untuk mengusir hama. Suara yang dihasilkan oleh alat musik karinding membuat hama padi tidak mendekat karena menyakitkan buat hama tersebut. Karena karinding tersebut menghasilkan suara dengan low decible yang hanya dapat didengar oleh insect seperti hama, dan sangat merusak konsentrasi hama tersebut.